Laporan Dampak Dari Frontline Community Fund
2024-2025
RINGKASAN EKSEKUTIF
KSetahun sejak diluncurkan, Frontline Community Fund (FCF) telah menyalurkan lebih dari US$2,5 juta langsung kepada mereka yang bekerja di garis depan isu kelautan.
Tujuan FCF jelas: menempatkan pendanaan penggerak yang fleksibel langsung ke tangan masyarakat dan organisasi akar rumput. FCF menghilangkan hambatan, memperkuat kepemimpinan lokal, dan mendorong kolaborasi serta dampak kolektif dalam jejaring yang bekerja untuk perubahan jangka panjang di bidang perikanan dan perlindungan pesisir.
Pada tahun pertama pelaksanaan program penyaluran hibah unggulan Blue Ventures ini, kami memperkuat dan memperluas kemitraan dengan 56 organisasi lokal di empat kawasan dan sepuluh negara, sekaligus membangun fondasi untuk eskalasi program. Semua capaian ini dapat terwujud berkat dedikasi dan ketekunan tim kami yang merancang dan membangun dasar kokoh bagi FCF.
Laporan perdana ini menyoroti ketangguhan dan kepemimpinan para mitra yang bekerja melindungi hak-hak masyarakat, memulihkan perikanan, menjaga keanekaragaman hayati, dan memperkuat ketahanan masyarakat pesisir. Kemajuan ini dimungkinkan oleh pendanaan fleksibel dari FCF dan diperkuat melalui pendampingan Blue Ventures dalam bentuk pelatihan, penyediaan data, dan advokasi kebijakan.
Saat kami melihat ke depan, FCF siap menjangkau lebih banyak kelompok masyarakat, memperdalam dan memperluas dampak, serta mendukung gerakan global menuju perikanan yang berkelanjutan, penghidupan yang tangguh, serta laut yang sehat dan terlindungi melalui jaringan mitra yang semakin kuat dan berdaya.
MAYORITAS YANG TERABAIKAN
85,000
KELOMPOK MASYARAKAT
Di sepanjang pesisir negara-negara berpenghasilan rendah di wilayah tropis
60 JUTA
ORANG
Dalam masyarakat ini terhubung secara langsung dan bergantung pada laut
225 JUTA
PEKERJAAN
Nelayan, pengolah, dan pedagang ikan, menjadikan perikanan sebagai sektor penyedia lapangan kerja terbesar di laut
25 JUTA
TON
Tangkapan ikan dihasilkan setiap tahun oleh nelayan skala kecil yang menopang ketahanan pangan dunia
58 MILIAR
DOLAR
Perkiraan nilai tahunan di sisi dermaga dan pendaratan ikan dari perikanan laut skala kecil secara global
MEMPERKUAT PERAN MASYARAKAT DALAM MENJAGA LAUT
Kami fokus bekerja untuk menghilangkan hambatan yang membatasi peran masyarakat pesisir dalam memimpin perlindungan laut dan mengamankan masa depan merekaan masa depan mereka.
Pendanaan yang terbatas
→ DUKUNGAN YANG FLEKSIBEL, JANGKA PANJANG, DAN NON-KOMPETITIF
Pendanaan disalurkan lebih awal dan tidak bersifat kompetitif, sehingga mitra memperoleh sumber daya yang konsisten dan dapat disesuaikan untuk memperkuat dan mempertahankan upaya mereka.
Pengetahuan yang belum menyatu
→ PELATIHAN, SUMBER DAYA, DAN PEMBELAJARAN SEBAYA
Penyediaan materi-materi praktis dan pertukaran pembelajaran antar-mitra membantu mereka dalam berbagi pengetahuan, merespons tantangan, dan menerapkan solusi yang relevan secara lokal.
Marginalisasi
→ MENGANGKAT SUARA PESISIR DAN MEMBANGUN KOALISI
Dukungan ini memperkuat kepemimpinan pesisir dan membangun koalisi yang membawa perspektif masyarakat ke dalam kebijakan dan pengelolaan sumber daya.
Keterbatasan data
→ MEWUJUDKAN SISTEM DATA MILIK MASYARAKAT
Mitra memimpin pengumpulan dan penggunaan data, memastikan masyarakat memiliki informasi yang mereka perlukan dan menggunakannya untuk mengambil keputusan.
KOALISI GLOBAL SUARA PESISIR
Pendanaan penggerak sebesar $2,535,000 telah diberikan melalui Frontline Community Fund pada tahun pertama
Jaringan yang terus berkembang hinga menjankau 56 mitra lokal
ASIA-PASIFIK
22 mitra lokal
SAMUDRA HINDIA BARAT
21 mitra lokal
AFRIKA BARAT
8 mitra lokal
AMERIKA LATIN & KARIBIA
5 mitra lokal
MITRA KAMI
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Jaringan BMU Kabupaten Kwale Jaringan BMU Kabupaten Kwale |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
DAMPAK DALAM SOROTAN
Penjaminan Hak, Pengelolaan Perikanan Berbasis Masyarakat, Inklusi Keuangan, dan Ketahanan Pangan
Skala tidak berarti tanpa perubahan nyata. Bagi kami, yang terpenting adalah melihat ekosistem pulih dan masyarakat sejahtera dengan hak-hak yang lebih terjamin, mata pencaharian yang lebih baik, ketahanan pangan yang meningkat, dan ruang untuk menentukan masa depan mereka sendiri.
Perubahan ini adalah milik masyarakat dan para mitra yang mendampinginya, bekerja bersama untuk membangun solusi yang benar-benar dipimpin secara lokal.
Di sini, kami berbagi cerita tentang dampak dari empat hasil utama yang kami dan mitra gunakan untuk mengukur perubahan. Kisah-kisah ini menunjukkan bagaimana masyarakat mengambil peran utama dalam mengelola sumber daya, membangun ketangguhan, dan mengamankan masa depan mereka.
Mengamankan Hak Masyarakat melalui Penguatan Jaringan Komunitas: Kilwa, Tanzania
Kami memastikan masyarakat memiliki pengakuan formal atas akses, penggunaan, dan tata kelola sumber daya pesisir dan laut menjadi langkah penting dalam menjamin otoritas dan akuntabilitas jangka panjang pengelolaan wilayah
Di Distrik Kilwa, Kilwa Beach Management Unit Network (KBMUN), yang beranggotakan 29 BMU dan lebih dari 4.000 nelayan, telah memperkuat suara kolektif masyarakat pesisir dan mendapatkan pengakuan formal dalam tata kelola perikanan. Melalui pertemuan dua kali setahun dengan para pemimpin BMU dan pejabat distrik, KBMUN membangun ruang dialog yang efektif untuk perencanaan dan pemecahan masalah bersama, sekaligus menarik dukungan nyata dari pemerintah.
Upaya ini menghasilkan legitimasi jaringan yang semakin kuat ketika Dewan Distrik Kilwa menyetujui BMU sebagai agen pengumpul pendapatan perikanan, memungkinkan mereka menginvestasikan kembali sebagian pendapatan tersebut untuk konservasi laut.
"Kita perlu bekerja sama untuk menemukan solusi yang akan melindungi sumber daya laut kita dan mendukung mata pencaharian masyarakat pesisir." Komisioner Distrik Kilwa, Hon. Mohamed Nyundo.
Antara Januari dan Juni 2025, KBUMN mengoordinasikan kampanye penyadartahuan, patroli bersama masyarakat, pemilihan umum, dan penguatan kelembagaan di 29 BMU, melibatkan 784 orang yang 60% di antaranya adalah perempuan. Patroli gabungan dengan petugas perikanan dan polisi menurunkan kegiatan penangkapan ikan ilegal dan mendorong ratusan nelayan untuk mendaftar atau memperbarui izin hanya dalam dua hari. Pada saat yang sama, penutupan wilayah terumbu karang yang dikelola masyarakat memberikan manfaat ekonomi yang nyata: satu kali pembukaan kembali menghasilkan hampir 10 ton gurita, meningkatkan pendapatan rumah tangga dan BMU.
Dengan meningkatkan peran perempuan dalam kepemimpinan dan memperkuat kerja sama dengan pemerintah, KBMUN terus memperkuat legitimasi dan mengamankan hak-hak masyarakat pesisir. Jaringan ini memastikan perspektif masyarakat menjadi bagian dari pengambilan keputusan, konservasi, dan pengelolaan perikanan lokal.
Melindungi Lumbung Pangan Warga: Nelayan Pimpin Penutupan Permanen di Nusa Tenggara Timur, Indonesia
Pengelolaan perikanan berbasis masyarakat memberi ruang bagi nelayan untuk mengorganisasikan diri, merencanakan, melaksanakan, dan mengadaptasi strategi lokal yang menjaga keberlanjutan stok ikan dan ketangguhan masyarakat
Di Desa Kotodirumali, pendekatan ini telah mengakar kuat. Melalui dukungan berkelanjutan dari Yayasan Tananua Flores, para nelayan dan pemimpin masyarakat telah menetapkan penutupan permanen area tangkap gurita untuk melindungi masa depan mereka. Ini menjadi penutupan permanen pertama yang didukung oleh mitra Blue Ventures di Asia Pasifik.
Kepala Desa Maternus Mau menjelaskan pentingnya aksi ini:
"Agar nelayan bisa tersenyum dan menangkap ikan di lokasi sekitar, nelayan sendiri harus mulai menjaga dan mengelolanya dengan baik. Kita sebagai pelaku utama tidak boleh menguras sumber daya dengan cara-cara penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan."
La menggambarkan area yang ditutup ini sebagai “lumbung” bagi masyarakat, sebuah cadangan pangan penting yang akan menopang mata pencaharian jika dilindungi melalui kerja sama antara pemerintah, nelayan, dan tokoh adat setempat. Ia juga menekankan peran Yayasan Tananua Flores dan Blue Ventures yang telah “dengan setia mendampingi masyarakat nelayan selama lebih dari tiga tahun,” memastikan mereka mampu merencanakan, menyesuaikan, dan menjalankan strategi pengelolaan perikanan mereka sendiri.
Memperjuangkan Perempuan, Memperkuat Masyarakat: Inklusi Keuangan untuk Mata Pencaharian Pesisir di Senegal
Program inklusi keuangan membantu rumah tangga nelayan memperkuat literasi keuangan, membentuk kelompok menabung dan usaha mikro, serta mengakses layanan keuangan yang sesuai kebutuhan, sehingga meningkatkan ketahanan dan kemandirian ekonomi
Pada Mei 2025, peserta dari 21 komunitas di Kayar, Joal, Somone, Oussouye, dan Bignona memulai pembentukan Asosiasi Simpan Pinjam Desa (VSLA) khusus perikanan pesisir. Langkah ini menjadi tonggak besar bagi inklusi keuangan di masyarakat nelayan Senegal. Inisiatif dipimpin oleh mitra Nebeday, UKB, Ecorural, Kawawana, AGIRE, serta jaringan nelayan perempuan di Kayar, bekerja bersama Blue Ventures dan pemerintah daerah, termasuk komite pengelolaan kawasan konservasi perairan dan laut. Kolaborasi ini menyatukan masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), kelompok swadaya masyarakat (KSM), dan pejabat publik dalam satu tujuan untukmemperkuat ekonomi rumah tangga nelayan.
Inisiatif ini membekali peserta dengan keterampilan dan rasa percaya diri untuk membangun kelompok menabung, mengembangkan usaha mikro, dan memperkuat literasi keuangan rumah tangga. Perempuan mengambil peran sentral dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan, memastikan pendekatan yang inklusif, digerakkan oleh masyarakat, dan sepenuhnya relevan dengan realitas mata pencaharian perikanan pesisir.
Melalui keaktifan mitra dan masyarakat dalam menerapkan rencana ke dalam praktik, VSLA diproyeksikan berkembang di berbagai wilayah pesisir Senegal, menciptakan peluang baru bagi kemandirian finansial, ketahanan, dan mata pencaharian berkelanjutan. Kolaborasi erat antara masyarakat, mitra, dan pemerintah menjadi fondasi perubahan yang berkelanjutan, dengan momentum yang terus menguat di seluruh wilayah.
Melengkapi Gambaran: Mengintegrasikan Nutrisi dalam Pengelolaan Perikanan dan Konservasi Laut di Kenya dan Indonesia
Pengelolaan perikanan perlu memastikan bahwa kegiatan ini mendukung pemenuhan nutrisi lokal dengan memprioritaskan spesies ikan yang kaya nutrisi, meningkatkan konsumsi rumah tangga, dan memperbaiki penanganan pascapanen
Bersama mitra kami, yakni Bahari Hai di Kenya serta Forkani, Japesda, Tananua, YCMM, dan LINI di Indonesia, kami mengujicobakan pendekatan baru yang menghubungkan ketahanan pangan dan gizi secara langsung dengan pengelolaan perikanan, sehingga menunjukkan bahwa melindungi ekosistem pesisir juga dapat menghasilkan makanan yang lebih sehat.
Di Kabupaten Kilifi, Kenya, Bahari Hai bekerja dengan lima BMU untuk melaksanakan survei konsumsi ikan pertama di negara tersebut. Mereka melatih peserta lokal dan menjangkau lebih dari 10.000 orang melalui teater komunitas dan kampanye radio selama tiga minggu. Hasil survei menunjukkan bahwa lebih dari 70% rumah tangga mengandalkan ikan sebagai sumber protein utama, namun banyak yang belum menyadari nilai gizinya. Untuk pertama kalinya, pemimpin BMU duduk bersama petugas gizi dan petugas perikanan tingkat kabupaten untuk merancang strategi yang menghubungkan ketahanan pangan dengan keberlanjutan perikanan.
Di Indonesia, mitra kami melakukan survei di lima desa nelayan dan menemukan bahwa sebagian besar rumah tangga mengonsumsi langsung hasil tangkapannya. Spesies seperti cakalang, baronang, dan katambak menjadi sumber pangan penting. Bersama ahli gizi, masyarakat mengembangkan materi edukasi, mengadakan demo masak, dan melibatkan layanan kesehatan untuk menghubungkan konsumsi ikan dengan upaya pencegahan stuntingDari rangkaian kegiatan ini, tercipta “indeks nutrisi” baru dalam dasbor perikanan Blue Ventures yang memungkinkan para mitra mengidentifikasi spesies bernutrisi tinggi dan memastikan perlindungannya dalam pengelolaan perikanan berbasis masyarakat. Program rintisan ini kini menjadi rujukan dalam dialog kebijakan nasional di Kenya dan Indonesia, dan akan diperluas ke seluruh jaringan mitra global Blue Ventures, sehingga memberikan lebih banyak kesempatan bagi masyarakat untuk mengelola perikanan mereka demi peningkatan pendapatan, ketahanan pangan, dan kesehatan generasi mendatang.
MEMUNGKINKAN PERUBAHAN
Pengembangan Organisasi, Data dan Advokasi
Perubahan transformatif ini didukung oleh kerja-kerja pendukung di seluruh bidang pengembangan organisasi, data, dan advokasi. Melalui upaya ini, mitra dan masyarakat memperoleh alat, pengetahuan, dan pengaruh untuk mempertahankan pengelolaan laut yang dipimpin secara lokal dan memperkuat suara mereka.
Didukung untuk Memimpin: KSM Melaksanakan Hibah Pertama Mereka di Madagascar Barat Daya
Pengembangan organisasi, peningkatan kapasitas mitra, kepercayaan, dan otonomi adalah fondasi yang memungkinkan masyarakat mengelola program mereka sendiri secara efektif
Melalui Frontline Community Fund, Asosiasi Manjaboake dan Velondriake mampu mengakses hibah langsung pertama mereka. Ini adalah sebuah langkah besar yang membuka peluang bagi lebih banyak KSM di Madagaskar untuk mengakses pendanaan langsung. Melalui peningkatan kapasitas yang disesuaikan, termasuk pelatihan tentang alat manajemen, kerangka kerja teknis, dan proses perekrutan, kedua asosiasi itu kini mampu merancang dan melaksanakan program mereka sendiri. Hasilnya terlihat dalam perluasan cagar laut, penutupan permanen dan sementara, penguatan hubungan dengan otoritas nasional, dan akses tambahan ke sumber pendanaan eksternal.
Jean Ramialson “Meg,” yang mendampingi kedua asosiasi tersebut sejak awal hingga mampu mengelola hibah pertama mereka, merefleksikan:
“Perjalanan saya dengan Velondriake dan Manjaboake adalah salah satu transformasi kolektif yang mendalam. Saya memulai pada tahun 2016 sebagai pendamping organisasi masyarakat, bekerja sama dengan komunitas lokal untuk mendukung penataan dan pemberdayaan mereka. Seiring berjalannya waktu, saya bertransisi ke dalam tim jaringan mitra, di mana saya bertanggung jawab untuk mengoordinasikan pendanaan langsung dan pengembangan kapasitas yang disesuaikan untuk KSM dan mitra. Jalur ini, yang dibentuk oleh tantangan, ketahanan, dan pembelajaran secara terus-menerus, memungkinkan saya menyaksikan secara langsung bagaimana organisasi-organisasi ini berevolusi dari kesulitan menuju kemandirian yang sejati. Hari ini, saya melihat KSM yang terstruktur, bertanggung jawab, dan bangga mengelola sumber daya mereka sendiri. Keberhasilan Velondriake dan Manjaboake berakar pada rencana strategis multi-tahun dan menunjukkan bahwa dengan pengembangan kapasitas organisasi yang disesuaikan seperti alat manajemen administrasi dan keuangan, pengawasan proyek, dan kepercayaan yang tulus, yang dikombinasikan dengan mekanisme pendanaan yang disesuaikan, maka masyarakat dapat menjadi arsitek masa depan mereka sendiri.”
Pencapaian ini menunjukkan apa yang dapat terjadi ketika dukungan berkelanjutan bertemu ambisi lokal: hadirnya otonomi yang tulus, tata kelola yang semakin kuat, dan kemampuan untuk membuka pendanaan baru yang mempertahankan visi mereka.
Memperkuat Keputusan dengan Data Perikanan Milik Masyarakat di Belize Utara
Platform data yang dimiliki masyarakat menyediakan informasi yang dapat digunakan secara waktu nyata tentang perikanan, habitat, dan hasil tangkapan, sehingga mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik dan advokasi yang efektif
Melalui Sarteneja Alliance for Conservation and Development (SACD), nelayan di Suaka Margasatwa Teluk Corozal (CBWS) menggunakan platform digital Blue Ventures, seperti Kobo Toolbox, formulir survei pendaratan, dan Dasbor Perikanan Masyarakat, untuk memantau populasi ikan bersirip dan habitat utama mereka. Dengan menggabungkan buku catatan tradisional nelayan dengan survei terstruktur, SACD mengubah pengetahuan lokal menjadi data ilmiah yang dapat memandu pengelolaan perikanan berkelanjutan dan melindungi mata pencaharian. Pendekatan yang sama digunakan oleh nelayan yang bekerja dengan Friends of Swallow Caye (FoSC) di Distrik Belize untuk memantau perlindungan ikan juvenil dan manatee Antillean di Suaka Margasatwa Swallow Caye (SCWS).
Di berbagai wilayah, nelayan dari asosiasi Chunox, WABAFU, Yugadan, dan Blue Water mulai mengumpulkan dan mengelola data pendaratan ikan mereka sendiri. Melalui pelatihan langsung, mereka belajar mencatat hasil tangkapan, memonitor tren, dan menginterpretasikan temuan secara waktu nyata. Proses ini memberi mereka pemahaman yang lebih jelas tentang kondisi kesehatan perikanan, memperkuat suara mereka dalam diskusi dengan pihak berwenang, dan membuka peluang baru untuk advokasi serta akses layanan.
Upaya-upaya yang dipimpin masyarakat ini menghubungkan pengumpulan data lokal dengan berbagai inisiatif nasional, termasuk Perencanaan Tata Ruang Laut melalui Institut Manajemen Zona Pesisir dan diskusi pendanaan konservasi inovatif melalui Belize Fund for a Sustainable Future. Dengan menempatkan data langsung di tangan masyarakat dan organisasi lokal, inisiatif ini memperkuat tata kelola sumber daya pesisir, mendukung kebijakan berbasis bukti, dan memberdayakan nelayan untuk membangun mata pencaharian yang lebih berkelanjutan dan tangguh.
Momen Bersejarah bagi Nelayan Skala Kecil di Ghana
Advokasi berarti memastikan suara masyarakat dan mitra terdengar dan diangkat dalam ruang-ruang kebijakan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global
Pada UNOC3, kami telah memfasilitasi delegasi yang terdiri atas lebih dari 30 nelayan skala kecil Eropa, Indonesia, dan Afrika Barat untuk berbicara di panggung global dan menegaskan kembali komitmen kami untuk menempatkan masyarakat sebagai pusat solusi laut.
Energi yang tercipta dalam konferensi tersebut memperlihatkan kekuatan kolektif nelayan skala kecil: ketika mereka bersatu, suara mereka didengar. Mereka bukan sekadar pemangku kepentingan, melainkan para pemegang hak yang suaranya mampu mengubah energi menjadi aksi.
Momentum ini sudah terlihat di Afrika Barat, di mana Ghana telah mengambil langkah bersejarah dengan memperluas Zona Pengecualian Daratan dan melarang penangkapan ikan industri di seluruh laut teritorialnya. Ini menjadi momen penting bagi para nelayan tradisional dan masyarakat pesisir di seluruh kawasan tersebut.
MEMPERKUAT JARINGAN MELALUI KOLABORASI DAN PEMBELAJARAN
Pembentukan Dewan Penasihat Regional
Kami mendukung para pemimpin lokal untuk memandu FCF, merekomendasikan mitra, dan memperkuat pengambilan keputusan di tingkat regional
Tahun ini, kami dengan bangga meluncurkan percontohan Dewan Penasihat Regional (Regional Advisory Council/RAC) pertama di Asia Pasifik. Ini menandai tonggak sejarah penting dalam memperkuat pengambilan keputusan yang dipimpin langsung oleh masyarakat dan pembelajaran sejawat di seluruh jaringan kami. Terdiri dari tujuh perwakilan dari Indonesia dan Filipina, RAC Asia Pasifik memfasilitasi keterlibatan aktif masyarakat dalam pelaksanaan FCF, sekaligus memandu pertumbuhan jaringan mitra dengan merekomendasikan organisasi lokal yang selaras nilai dan sesuai dengan jaringan mitra yang terus berkembang. Dalam enam bulan pertama, RAC telah merekomendasikan 19 calon mitra, dengan enam organisasi telah diverifikasi, dua telah bergabung, dan tiga lainnya sedang dalam proses. Langkah ini memastikan dukungan FCF menjangkau kelompok akar rumput yang paling siap memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat pesisir dan konservasi laut.
RAC juga telah memberikan masukan strategis yang membantu penyempurnaan prioritas regional, memperkuat proses pemilihan mitra, dan merekomendasikan sistem pendukung untuk pengembangan kapasitas dan berbagi pengetahuan. Berbagai capaian ini menunjukkan kekuatan kolaborasi regional dan potensi RAC sebagai model yang dapat diperluas dan direplikasi di berbagai wilayah. Energi dan momentum dari percontohan pertama ini membuat kami yakin akan peran RAC sebagai kekuatan pendorong konservasi yang dipimpin oleh masyarakat, dan kami tengah bekerja untuk mendirikan RAC lainnya di Afrika Timur dan Afrika Barat. Dengan demikian, kami semakin dekat dengan misi kami untuk membangun jaringan mitra akar rumput yang lebih kuat dan lebih tangguh untuk memulihkan kehidupan laut.
Pembelajaran Rekan Sejawat dan Pertukaran Mitra
Kami memperkuat jaringan masyarakat dengan menghubungkan para mitra di berbagai wilayah dan konteks
Pertukaran antarrekan sejawat sangat penting untuk mempercepat pembelajaran, memperkuat solidaritas, dan mendorong aksi nyata. Pertukaran ini memungkinkan para mitra dan masyarakat untuk dapat melihat solusi secara langsung, menyesuaikannya dengan konteks mereka sendiri, dan membangun kepercayaan diri untuk bersuara melalui pengalaman dan aliansi bersama.
- Solidaritas lintas benua: Peserta dari tujuh mitra di Indonesia dan Filipina mengunjungi Madagaskar pada bulan April, untuk belajar bersama Velondriake Association. Selama sepuluh hari, mereka mempelajari Kawasan Laut yang Dikelola Secara Lokal (LMMA), pengelolaan perikanan, dan integrasi data dengan pengetahuan lokal, sekaligus membangun solidaritas global di antara para penjaga laut dunia.
- Berbagi praktik pengelolaan ekosistem: Pertukaran pembelajaran timbal balik antara Gambia dan Senegal mempertemukan komunitas dan mitra (SANYEPD, Nebeday, Ecorurale, CCCZ, Hallahin, dan Boyay) untuk belajar bersama tentang teknik tradisional dan teknik berbasis ilmu pengetahuan dalam restorasi bakau serta pemanenan tiram berkelanjutan.
- Memperkuat struktur tata kelola lokal: Di Diani, Kenya, 23 BMU dari Tanzania dan Zanzibar serta 14 BMU dari Kwale bergabung dengan empat mitra untuk memperkuat jaringan, rantai nilai ikan, sistem pengumpulan data, dan kelompok VSLA.
- Memperdalam kolaborasi di antara mitra baru: Di Maluku, Indonesia, Sahari menjadi tuan rumah bagi MCC dan YTBM untuk berbagi pengalaman terkait penutupan area tangkap dan upaya penegakan hukum. Di Aceh dan Sulawesi Utara, Ecosystem Impact dan YAPEKA memfasilitasi dialog antara nelayan dan pejabat setempat untuk merefleksikan praktik penutupan dan sistem tabungan. Kegiatan ini memperkuat rasa kepemilikan masyarakat dan penggunaan data, sekaligus menyoroti tantangan regulasi dan koordinasi yang kerap dihadapi.
- Mengkatalisasi tindakan melalui paparan: Terinspirasi oleh kunjungan ke Tanga yang difasilitasi oleh Sea Sense dan Mwambao, BMU Desa Kibewa di Tanzania meluncurkan penutupan laut selama enam bulan pertama. Sebanyak 30 anggota, termasuk tujuh perempuan, kini memimpin pemantauan dan penegakan hukum.
Berbagi Kapasitas: Membangun Kekuatan Teknis dan Organisasi
Kami mendukung mitra dan masyarakat dengan sumber daya, sistem, dan keterampilan untuk memimpin pengelolaan kelautan berbasis lokal
Dukungan Blue Ventures kepada Jaringan Mitra FCF tidak hanya berupa pendanaan. Melalui pelatihan teknis, program kepemimpinan, penguatan organisasi, dan sistem data, kami mendorong mitra untuk membantu masyarakat mengambil peran utama dalam pengelolaan laut. Mulai dari nelayan di Belize yang memantau hasil tangkapan hingga pemimpin LMMA di Madagaskar yang mendapatkan kewenangan, dukungan menyeluruh ini membuka kepemimpinan di berbagai wilayah. Sorotan terbaru meliputi:
- Pelatihan teknis praktis: Sebanyak 30 komunitas di Madagaskar mengunjungi LMMA Velondriake untuk belajar tentang penutupan area tangkap gurita, tata kelola perikanan, kapasitas organisasi, dan sistem data. Kunjungan ini mendorong konsultasi untuk zona larang tangkap baru dan memperkuat manajemen keuangan CBO yang sedang menyalurkan hibah pertamanya.
- Pelatihan kepemimpinan: Di Indonesia, 21 peserta dari tujuh organisasi mitra menyelesaikan program kepemimpinan enam bulan untuk memperkuat ketahanan dan inovasi organisasi. Setiap mitra mengembangkan rencana keberlanjutan selama enam bulan dan mengartikulasikan visi untuk menjadi pusat pembelajaran dan katalisator konservasi laut.
- Penguatan organisasi: Para pemimpin KKP Ufoyaal Kassa Bandia dan Kawawana APAC di Senegal mengikuti pelatihan teknologi informasi tentang penggunaan Google Suite untuk memperkuat kemampuan mereka dalam pelaporan berbasis penyimpanan data virtual (cloud), optimalisasi pengelolaan proyek, serta peningkatan kolaborasi internal dan eksternal.
- Kemitraan dalam perekrutan: Dengan dukungan Blue Ventures, Jaringan BMU Distrik Kwale di Kenya menjalankan proses rekrutmen pertamanya dan berhasil menunjuk seorang petugas perikanan dan akuntan proyek. Peran-peran ini memperkuat kapasitas jaringan dalam mengelola hibah dan program, memastikan ketelitian keuangan, transparansi, serta operasi lapangan yang efektif dari pengumpulan data hingga pemantauan dan survei. Kolaborasi ini memperkuat kinerja operasional dan membangun fondasi untuk pengelolaan berkelanjutan di semua BMU di Distrik Kwale dan menjadi model bagi BMU di seluruh Kenya.
Kemitraan Strategis
Kami membangun perubahan yang langgeng melalui kolaborasi strategis
Kami berkolaborasi dengan mitra strategis untuk untuk memperkuat perikanan dengan mengatasi tantangan sosial dan ekonomi yang luas dan memengaruhi masyarakat pesisir. Aliansi ini memperluas dampak kami dan membantu mengatasi akar persoalan yang menentukan kemampuan masyarakat dalam mengelola sumber daya laut secara berkelanjutan.
Pada Pertemuan Tahunan Clinton Global Initiative, kami mengumumkan komitmen 15 tahun bersama MSI Reproductive Choices untuk mengintegrasikan layanan kesehatan seksual dan reproduksi dengan pengelolaan perikanan di seluruh Afrika Sub-Sahara. Bersama, kami menargetkan mobilisasi dana sebesar US$15 juta untuk menjangkau 1,5 juta masyarakat pesisir, mendukung perempuan dan anak perempuan yang paling terdampak perubahan iklim, serta memperkuat ketahanan di seluruh komunitas.
Melalui Sustainable Finance Coalition, kami bermitra dengan organisasi lokal di Tanzania untuk mengeksplorasi solusi pembiayaan konservasi yang layak dan dapat mempertahankan mata pencaharian dan ekosistem pesisir.
Tahun ini, kami juga memperdalam kerja sama dengan Rare untuk memperkuat pengelolaan perikanan berbasis masyarakat di Asia Pasifik. Di Indonesia, kami mendukung lembaga pengelola perikanan melalui pengawasan, literasi keuangan, dan kampanye kesadaran. Sementara di Filipina, kami mengembangkan klaster regional di Bentang Laut Lindung Selat Tañon untuk memberdayakan asosiasi nelayan dalam memimpin pengelolaan berkelanjutan salah satu ekosistem laut terpenting di negara tersebut.
MELIHAT KE DEPAN: Inisiatif Utama 2025-2026
Pertumbuhan Jaringan
Memperluas jaringan mitra di setiap negara; 40 mitra baru telah bergabung sejak Juli 2025, 23 mitra lainnya sedang dalam proses bergabung
Fokus yang dipusatkan pada unit-unit pengelolaan bersama masyarakat sebagai fondasi utama pertumbuhan jaringan
Bertambah dari 10 menjadi 12 negara pada Juni 2026
Dewan Penasihat Regional (RAC)
Mendirikan RAC di Samudra Hindia Barat dan Afrika Barat
Memperkuat pengelolaan lokal dan memungkinkan para mitra untuk memengaruhi prioritas regional
Mengidentifikasi mitra berbasis komunitas yang berpotensi tinggi melalui wawasan jaringan lokal
Mempercepat Kekuatan KSM
Revise the first point of “Mempercepat Kekuatan KSM”: Merancang dan meluncurkan program pengembangan organisasi yang terstruktur dan responsif terhadap konteks
Membangun keterampilan kritis dan ketahanan kelembagaan dalam organisasi berbasis masyarakat
Menanamkan dukungan kapasitas sebagai penawaran inti untuk mitra lokal
Pembelajaran Daring dan Pelatihan Teknis
Meluncurkan platform pembelajaran digital dengan modul pelatihan untuk staf mitra
Pelatih kompeten dan platform digital yang dapat diakses di seluruh wilayah
Memastikan pembelajaran teknis yang konsisten dan terukur untuk pertumbuhan jaringan
Jalur Pendaftaran dan Pendanaan
Sistem pendanaan yang terukur dan jelas yang selaras dengan kematangan dan otonomi mitra
Mitra berkinerja tinggi menjadi mentor bagi mitra lainnya, menciptakan efek riak di seluruh jaringan
Kemitraan strategis memperluas jangkauan, pengaruh, dan dampak di luar komunitas individu
Keterlibatan Jaringan dan Platform Bersama
Tim yang solid dan aktivitas keterlibata yang direplikasi di semua wilayah
Platform dan perangkat digital bersama memastikan konsistensi dan aksesibilitas
Kemitraan strategis memperkuat jangkauan dan dampak
VISI UNTUK TAHUN 2030
Pendanaan multi-tahun yang fleksibel tersalurkan langsung ke organisasi lokal yang berada di garis depan darurat laut. Ketahanan iklim menguat. Mata pencaharian lokal bertransformasi. Perikanan masyarakat menjadi regeneratif. Kehidupan pulih. Nelayan berdaya. Lautan terjaga.




















































